« 2 February 2008 | Main | My Work (now and then) »

Tragedy of the Commons

Kf_3Jakarta banjir, itu sudah biasa kita dengar. Konon (katanya) penyebab utamanya adalah penumpukan sampah. Itu juga sudah sering kita dengar. Lalu? Kalo sudah tau penyebabnya, kenapa masih saja terjadi? Berarti kesadaran orang akan buang sampah pada tempatnya masih miskin sekal i donk, bahkan tidak ada. Tahu, tapi acuh. Dalam benak mereka, mungkin begini;

"Semua orang tahu klo buang sampah sembarangan bisa berakibat banjir, maka dari itu mereka akan membuang sampah pada tempatnya. Jadi, kalo aku buang sampah kecil ini dimanapun aku mau, tidak akan berdampak besar kok. Toh cuman kecil dan cuman aku saja yg buang sembarangan. Satu orang tidak akan membuat perbedaan khan?".

Hah! Sekarang gimana klo semua orang berpikir seperti itu? Alhasil yang kecil itu menjadi besar, menumpuk, dan menyumbat!! Banjiirrr deeeehhh!!!

Contoh di atas mengingatkanku pada sebuah cerita tentang Tragedy of the Commons, yg dicetuskan oleh Garrett Hardin, dan diceritakan oleh Professor Amin, profesorku waktu di Bangkok dulu. Agak beda memang dg contoh di atas, tapi ada kemiripannya. Apa sih Tragedy of the Commons itu? Jadi intinya adalah, kerusakan sumber daya alam karena tidak adanya kepemilikan, sehingga banyak orang (yang kemudian disebut 'free riders' atau 'penumpang gratis') yg merasa memiliki dan boleh mengambil / menggunakan sumber tersebut. Akibatnya, semua orang mengambilnya dan pada akhirnya sumber tersebut habis / rusak.

Contohnya disini banyak lah. Lihatlah orang2 pada nyuci or buang air di sungai. Semua merasa memiliki sungai itu dan boleh menggunakannya semau mereka. Akhirnya semua orang menggunakan dengan 'salah' trus sungai itu menjadi bau dan tercemar. Begitu juga dengan air, semua orang pasti butuh air. Tapi, tidak harus boros kan? Tahukah, bahwa 40% wilayah Jakarta (sumber: Bappeda) terletak di bawah permukaan air laut? Itu adalah akibat dari land subsidence (penurunan tanah), yg tak lain penyebabnya adalah over extraction of groundwater atau over exploitasi air tanah, yang mengakibatkan rongga di dalam tanah sehingga tanah menjadi turun. Wilayah yg terletak di bawah permukaan air laut akan semakin rentan terhadap banjir akibat hujan ataupun akibat gelombang air pasang.

Sebenarnya, banyak juga kota yang berada di bawah permukaan air laut, misalnya Bangkok. Tapi sekarang mereka mulai berbenah, salah satunya dengan privatisasi air. Ya, salah satu solusi tragedy of the commons adalah memberikan kepemilikan, sehingga si pemilik akan merawat apa yg dia miliki. Trus ga boleh make' donk? Boleh. Tapi dengan pricing (membayar). Misalnya nih dengan privatisasi air, kualitas air dan pelayanan menjadi lebih baik, karena si pemilik adalah sebuah profit organization, yg akan untung dengan memberikan kepuasan kepada pembeli. Si pembeli pun, dg sendirinya akan menghemat air, karena kalo boros biayanya akan bertambah tentunya. Privatisasi air bertujuan juga untuk konservasi sumber daya alam. Itu kenapa pemerintah menganjurkan untuk berlangganan PAM. Tapi masalahnya, pelayanan dan kualitas air PAM belom bisa diandalkan, sehingga masyarakat masih enggan :(

Nah trus, klo air aja suruh bayar, yang pada ga mampu gimana donk? Yang pada ga mampu bisa disubsidi pemerintah. Tapi lagi2, dihadapkan pada permasalahan klasik subsidi, yaitu targeting atau salah target. Sepertinya subsidi silang lebih cocok. Anyway, berdasarkan penelitian, orang miskin sebenarnya mampu kok membayar langganan air, hanya saja, mereka tidak punya biaya untuk memasang initial installment air (meteran, pipa dsb). Jadi, lebih baik pemerintah memberi bantuan dengan memasang alat2 tsb. Nanti, untuk biaya bulanan, bisa dengan cross-subsidy tadi.

Nasi sudah menjadi bubur. Tapi jangan berkecil hati, masih bisa terselamatkan kok. Tinggal bagaimana kita membuat bubur itu menjadi enak, ditambahin ayam, keju, kecap atau yg lain. Pemerintah DKI skrg sedang berupaya keras untuk menata drainase kota yg sudah mampet oleh sampah. Biayanya triliunan. Kasian SBY & Fokke. Jangan selalu menyalahkan pemerintah (hai Megawati terutama!), percayalah, they're doing the best they can! Kesadaran masyarakat juga masih sangat kurang. Lebih baik kamu keluarkan energi untuk menghimbau masyarakat ketimbang mencari2 kesalahan pemerintah demi mendapatkan kursi kekuasaan di pemilu mendatang. Hahahaha!

Save our planet guys! For ourselves n mostly for our children! Buanglah sampah pada tempatnya dan hematlah air!!!! Mandi cukup sehari sekali saja. Hahahahahahahaaaaa............

                            

Comments

Mengomentari soal nyuci dan buang sampah di sungai, bukannya justru kita begitu karena kita merasa TIDAK memiliki sungai tersebut? Kalo misalnya kita punya kolam kecil di halaman rumah, kita nggak bakal nyuci atau buang sampah disitu kan?

Privatisasi kayak ide bagus, tapi njuk kapitalis... yo pancen susah jadi manusia...

Jadi munyuk aja yo...

Yah, disitulah memang dilema nya. Kita merasa sungai itu sbg public goods, milik umum, milik kita semua, tapii... justru tdk merasa memiliki, buktinya dg menggunakannya sembarangan. Inilah hakekat arti tragedy of the commons. Merasa berhak tapi tidak berkewajiban (utk memelihara). Salah satu solusinya adlh memberi kepemilikan. Klo ada kepemilikan, akan menimbulkan sense of belonging, shg kita akan memeliharanya. Spt kolam di rumah tadi. Kita merasa itu kepunyaan kita, dan bukan kepunyaan org lain, shg kita merawatnya baik2.

Kapitalis tdk selalu berkonotasi negatif kok, toh selama ini memang terbukti profit organizations lebih baik management-nya ketimbang yg non-profit. Apalagi skrg ada sistem market lewat CSR (corporate social responsibility), ada perusahaan2 yg merangkul kaum miskin sbg market mereka, dan kaum miskin itu diuntungkan dg program air bersih dan sanitasi dari perusahaan tersebut. Kapitalis yg saling menguntungkan, why not? Kapitalis berkonotasi negatif kalau merugikan orang lain dan menindas yg lemah, yg miskin. Untuk menghindari hal ini pemerintah harus berperan sbg regulator.

Cen rumit jadi manusia....hehehe. Aku pilih jadi kucing aja....biar bisa dielus2. Wekekeke. Meeoonng ^_^

P.S. Happy belated Birthday yach Dion!! :)

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .